Alam mengajarkan kita bagaimana memimpin dengan ketahanan (resilience). Siklusnya, keanekaragaman, dan sistem adaptifnya menawarkan model kepemimpinan cerdas yang fleksibel, relasional, dan regeneratif. Hutan melewati badai berkat akar yang dalam dan jaringan yang kuat; terumbu karang yang sehat pulih dengan bekerja bersama gangguan. Dengan cara yang sama, para pemimpin dapat belajar dari contoh alam untuk menavigasi kompleksitas dengan empati dan kesadaran sistemik. Dengan memperlakukan lingkungan bukan sebagai sumber daya eksternal, melainkan sebagai mitra dalam kemajuan, kita membangun kepercayaan dan ketahanan. Ketika nilai alam terjalin dalam strategi, dan keanekaragaman hayati diperlakukan sebagai fondasi hidup daripada sekadar perhatian sampingan, perekonomian tumbuh dengan keseimbangan, inklusi, dan kekuatan jangka panjang yang lebih besar.
Sesi “Membuka Solusi Berbasis Alam: Pemanfaatan Sumber Daya Darat dan Laut yang Berkelanjutan” di Indonesia International Sustainability Forum (ISF) 2025 membawa pengingat yang tenang namun kuat: Solusi Berbasis Alam (NbS) bukan hanya tentang memperbaiki alam, tetapi lebih tentang membentuk kembali cara kita berhubungan satu sama lain, dengan ekosistem, dan dengan sistem yang kita rancang.Kesenjangan antara Ekonomi dan Ekologi
Kesenjangan antara Ekonomi dan Ekologi
Helge Muenkel dari DBS berbagi bagaimana institusi keuangan mulai menilai seluruh portofolio pembiayaan mereka untuk memahami ketergantungan dan dampaknya pada alam. Alih-alih memperlakukan alam sebagai item checklist, pendekatan ini mencerminkan pergeseran yang lebih dalam menuju pengambilan keputusan yang sadar ekosistem. Dalam kata-kata Helge, “Integrasi memang merupakan kata kunci utama dalam konsep pertumbuhan hijau.”
Bagi Indonesia, dengan sumber daya mineralnya yang krusial untuk transisi energi, Helge menekankan perspektif holistik: memenuhi kebutuhan mineral harus dilakukan dengan cara yang menghormati batas-batas ekologis. Pembingkaian ini selaras dengan keyakinan bahwa bioekonomi yang bertanggung jawab tidak dapat berkembang tanpa integritas ekosistem.
Ketika Bisnis Mengikuti Logika Alam
Pallavi Kalita, Asia Lead dari Business for Nature, menggarisbawahi pentingnya melihat alam sebagai prioritas strategis, bukan hanya sebagai bagian dari upaya CSR. Dia menyerukan dialog bisnis-pemerintah yang bermakna untuk mengintegrasikan keanekaragaman hayati ke dalam perencanaan pembangunan, mendesak perusahaan untuk bertindak dengan komitmen dan transparansi.
Dalam kerangka kerjanya, empat tindakan penting: (1) menilai risiko dan ketergantungan terkait alam, (2) berkomitmen pada target berbasis ilmu pengetahuan, (3) mentransformasi operasi bisnis dan mengadvokasi ambisi kebijakan, dan (4) mengungkapkan informasi material terkait alam.
Di sisi lautan dalam percakapan, Jan Yoshioka dari Conservation International menyoroti signifikansi global Indonesia: 20% hutan bakau dunia dan 17% potensi blue carbon. Dia menunjuk pada budidaya udang cerdas iklim sebagai salah satu contoh, sebuah kolaborasi antara Conservation International, Conservation Indonesia, dan startup JALA. Model ini menggabungkan intensifikasi teknologi dalam budidaya udang dengan restorasi bakau aktif. Melalui upaya-upaya ini, Indonesia memposisikan dirinya tidak hanya sebagai pemasok bahan mentah tetapi sebagai pusat inovasi dalam ekonomi biru.
Amy Merrill, dari Integrity Council for the Voluntary Carbon Market (ICVCM), memperkuat gagasan bahwa aliran investasi nyata terjadi ketika kepercayaan dibangun dari bawah ke atas. Dia menekankan bahwa pasar karbon menjadi viable ketika inklusif, transparan, dan diatur oleh sistem yang kuat dan berbasis informasi komunitas.
Wawasannya: “Kepercayaan dibangun dari bawah ke atas, dari komunitas hingga sistem global.”
Bjorn Fonden from IETA echoed this, calling for clear, operational regulations in Indonesia that align with international carbon frameworks.
Dia menguraikan tiga prioritas: membuka permintaan domestik melalui penetapan harga karbon, memperkuat pasar karbon sukarela, dan menyelaraskan dengan Pasal 6 Perjanjian Paris. Tetapi dia juga menunjukkan bahwa semua ini tidak akan berarti tanpa pembagian manfaat yang adil bagi komunitas lokal dan Adat.

Kepemimpinan Berakar untuk Masa Depan Regeneratif
Secara keseluruhan, wawasan-wawasan ini menyoroti jalur ke depan yang sangat selaras dengan nilai-nilai BLESS. Kepemimpinan dalam konteks NbS menuntut lebih dari sekadar kapasitas teknis; ia meminta para pemimpin yang dapat menyediakan ruang bagi kompleksitas, membangun jembatan antar sektor, dan bertindak dari tempat empati dan kesadaran ekologis.
Dalam kata-kata Gita Syahrani, Direktur Eksekutif dan Pendiri BLESS Indonesia Foundation,
“Alam seharusnya tidak dianggap sebagai bonus atau manfaat sampingan (co-benefit), tetapi inti dari semua solusi yang kita coba buat, baik warnanya biru maupun hijau. Peluang untuk mengintegrasikan berbagai pemangku kepentingan ke dalam percakapan sejak awal memungkinkan Anda membangun kepercayaan sambil mempertahankan struktur. Dan menenun konektivitas antara bekerja pada skala besar dan mempertahankan integritas akan bermanfaat bagi kita semua dan harus menjadi prioritas.”
Apa yang muncul di ISF 2025 bukanlah daftar solusi, tetapi sebuah pola yang menghubungkan manusia dengan tempat, sistem dengan cerita, dan ambisi dengan kepedulian. Solusi Berbasis Alam menyerukan kepemimpinan yang tidak ekstraktif, melainkan penuh perhatian. BLESS membawa visi ini ke depan dengan membina para pemimpin yang memahami bahwa transformasi yang langgeng tumbuh melalui hubungan, ritme, dan keterakarannya.