Agustus 2025 ini, Indonesia memperingati Hari Kemerdekaan yang ke-80. Sebuah tonggak sejarah yang seharusnya membangkitkan harapan, kebebasan, dan persatuan. Kita menghormati pengorbanan mereka yang berjuang demi sebuah bangsa di mana martabat dan keadilan menjadi milik semua. Namun hari ini, suasana terasa memuat realitas lain, yang memunculkan pertanyaan-pertanyaan yang tak terucapkan. Apakah kita benar-benar merdeka? Apa artinya membentuk masa depan bangsa ini? Apakah perjuangan telah berakhir, atau hanya berubah bentuk?
Pertanyaan-pertanyaan ini muncul bukan sebagai tanda keputusasaan, melainkan sebagai bukti bahwa kita masih sangat peduli terhadap makna kebebasan dan pengaruh. Mereka mengingatkan kita bahwa kemerdekaan bukanlah babak yang selesai, melainkan kisah yang terus terungkap. Kisah yang harus dikunjungi dan didefinisikan kembali oleh setiap generasi. Merayakan kemerdekaan secara jujur berarti mengakui sejauh mana kita telah melangkah dan seberapa jauh lagi kita harus berjalan.
Dalam beberapa minggu terakhir, beragam suara telah mengemuka ke ruang publik. Serikat pekerja telah berbicara atas nama pekerja yang menjalani mata pencaharian yang rapuh. Koalisi masyarakat sipil telah menyuarakan kebutuhan komunitas yang merasa tertinggal. Tokoh publik dan influencer telah menggemakan apa yang dibisikkan banyak warga secara pribadi: kerinduan akan martabat, keadilan, dan akuntabilitas. Menolak diam, mereka bersikeras untuk dilihat dan didengar. Terlepas dari apakah kita setuju dengan setiap detail tuntutan mereka, suara-suara ini membawa sesuatu yang vital. Mereka menunjukkan bahwa rakyat Indonesia masih ingin percaya bahwa kata-kata dan hak-hak mereka berarti. Bahwa partisipasi tidak hanya simbolis, tetapi juga berdampak.
Namun, di samping ekspresi keberanian ini, kesenjangan yang jelas telah muncul. Di seluruh Indonesia, kita melihat perbedaan antara memiliki suara dan memengaruhi keputusan. Sebuah suara dapat membawa kemarahan, frustrasi, atau harapan. Ia dapat memenuhi jalanan, mendominasi linimasa, dan menginspirasi berita utama. Tetapi pengaruh membutuhkan sesuatu yang lebih. Ia menuntut kepercayaan yang dibangun dari waktu ke waktu, aliansi lintas perbedaan, dan kegigihan yang cukup kuat untuk menggeser kebijakan, anggaran, dan perilaku. Pengaruh tidak diukur hanya dengan volume atau visibilitas. Ia diukur dengan daya tahan, dengan apakah suara kita bertahan cukup lama, dan tetap cukup jelas, untuk membentuk apa yang akan terjadi selanjutnya.
Pengaruh sejati, oleh karena itu, lebih tenang dan lebih dalam. Ia dimulai dengan kejelasan, mengetahui apa yang kita perjuangkan. Ia adalah ketahanan (resilience): memilih integritas daripada reaksi. Ia adalah koneksi: mendengarkan, menjembatani perpecahan, dan bergerak maju bersama. Ia adalah keputusan sadar untuk bekerja melintasi perbedaan dalam mencari titik temu, bahkan ketika persatuan terasa rapuh. Ketahanan, dalam pengertian ini, bukan hanya bertahan hidup, tetapi kekuatan stabil yang membuat kita berpegang teguh pada kemanusiaan dan kebenaran.
Praktik yang Mempertahankan Pengaruh
Seperti yang diingatkan oleh kerangka Daniel Goleman tentang Kecerdasan Emosional, pengaruh tumbuh bukan dari kemauan keras semata, tetapi dari kebiasaan sehari-hari dalam pikiran dan hati. Kualitas-kualitas ini bukanlah kebajikan abstrak; mereka adalah bentuk ketahanan praktis yang memungkinkan kita untuk tetap teguh dalam kekacauan, membangun kepercayaan di tengah perbedaan, dan mempertahankan pengaruh cukup lama hingga perubahan benar-benar berakar.
- Kesadaran Diri (Self-Awareness)
Kemampuan untuk menyebutkan emosi kita secara jujur, seperti kemarahan, ketakutan, kelelahan, tanpa dikuasai olehnya. Kesadaran menciptakan ruang untuk refleksi dan penyembuhan. - Pengaturan Diri (Self-Regulation)
Menanggapi dengan kejelasan daripada bereaksi dalam kemarahan. Ini adalah disiplin untuk memilih kesabaran di atas keputusasaan, integritas di atas dorongan, bahkan ketika diprovokasi. - Motivasi
Dorongan batin yang menambatkan kita pada visi keadilan dan martabat. Motivasi mengingatkan kita mengapa kita terus bergerak maju, bahkan ketika kemajuan terasa lambat. - Empati
Mendengarkan orang lain secara mendalam, terutama mereka yang pengalamannya berbeda dari kita. Empati mencegah polarisasi, memperkuat solidaritas, dan menjaga kemanusiaan sebagai pusat tindakan kita. - Keterampilan Sosial (Social Skills)
Kemampuan untuk membangun kepercayaan, berkolaborasi, dan menjalin aliansi. Keterampilan ini mengubah keluhan bersama menjadi solusi bersama, membantu gerakan bertahan melampaui momen protes.
Bersama-sama, lima praktik ini membentuk tulang punggung pengaruh yang tangguh. Mereka mengingatkan kita bahwa ketahanan bukan hanya kekuatan pribadi, tetapi juga kapasitas kolektif untuk mengubah energi menjadi momentum, dan momentum menjadi perubahan yang langgeng.
Ketahanan dalam Komunitas dan Ritme
Ketahanan tidak dibangun dalam isolasi. Ia tumbuh melalui persahabatan, melalui komunitas yang mengingatkan kita bahwa kita tidak sendirian. Ia tumbuh ketika mahasiswa berbaris bukan hanya untuk masa depan mereka sendiri, tetapi untuk martabat petani dan pekerja. Ia tumbuh ketika tetangga saling membantu di masa sulit, ketika komunitas agama menawarkan tidak hanya doa tetapi juga solidaritas, ketika seniman menggunakan karya mereka untuk menyuarakan apa yang tidak bisa diucapkan dengan kata-kata. Dalam koneksi inilah, kita menemukan bahwa ketahanan tidak hanya bersifat pribadi tetapi juga kolektif, bahwa ia berlipat ganda ketika dibagikan.
Semangat ketahanan bersama ini menggemakan filosofi Bali tentang Tri Hita Karana, harmoni antara Parahyangan (spiritual), Pawongan (sosial), dan Palemahan (lingkungan). Bersama-sama, mereka mengingatkan kita bahwa ketahanan harus holistik, berakar pada hubungan dengan Tuhan dan dimensi spiritual kehidupan, diperkuat oleh solidaritas dengan orang dan komunitas, dan dipertahankan melalui kepedulian terhadap alam dan lingkungan (Subhaktiya et al., 2024). Ketika ketiga dimensi ini dijaga keseimbangannya, ketahanan bukan hanya bertahan hidup, tetapi menjadi cara hidup yang baik, dalam harmoni dan martabat.
Ketahanan juga membutuhkan ritme. Seperti manusia, gerakan tidak selalu bisa berlari cepat. Ada saatnya untuk bangkit, untuk berbicara, dan untuk maju, dan ada saatnya untuk berhenti sejenak, untuk bernapas, dan untuk memulihkan kekuatan. Keduanya diperlukan. Kemerdekaan juga membutuhkan ritme ini. Ia bukanlah kemenangan sekali untuk selamanya, tetapi proses yang hidup dan bernapas, dipertahankan oleh tindakan dan refleksi. Untuk bertahan, kita membutuhkan ruang pembaruan, di mana kepercayaan dipupuk, keberanian dipulihkan, dan kejelasan didapatkan kembali sebelum mengambil langkah selanjutnya.
Ketahanan, Kemerdekaan, dan Semangat Sumpah Pemuda
Menyerukan ketahanan bukanlah untuk meromantisasi perjuangan atau memuliakan kesulitan. Ketahanan bukanlah ketahanan pasif atau penderitaan diam. Ia adalah keberanian untuk terus hadir dengan harapan, bahkan ketika jalan di depan terasa tidak pasti. Ia adalah kepercayaan yang kita tempatkan pada kemanusiaan bersama, bahkan ketika kesendirian terasa lebih mudah. Ia adalah pilihan untuk berpegang teguh pada martabat, kebenaran, dan solidaritas, lagi dan lagi, hingga perubahan mulai berakar.
Kemerdekaan yang kita miliki sekarang harus berarti lebih dari sekadar mengenang. Ia bukan hanya kebebasan untuk berbicara, tetapi keberanian dan kesabaran untuk gigih. Ia bukan hanya hak untuk bermimpi, tetapi kemauan untuk terus mengupayakan mimpi-mimpi itu, bahkan ketika kemajuan terasa lambat. Delapan puluh tahun berlalu, kisah kebebasan Indonesia masih terus ditulis. Bab-bab berikutnya akan dibentuk bukan hanya oleh upacara atau simbol, tetapi oleh ketahanan rakyatnya, kemampuan kita untuk mengatakan kebenaran dengan kasih sayang, menjembatani perpecahan dengan keberanian, dan mempraktikkan kebebasan setiap hari dalam cara kita hidup, mendengarkan, dan membangun.
Saat kita membawa memori 80 tahun kemerdekaan dan bergerak menuju 100 tahun Sumpah Pemuda pada tahun 2028, kita diingatkan bahwa kebebasan tidak pernah selesai, ia harus dipraktikkan dan diperbarui dalam setiap generasi. Janji persatuan yang diikrarkan oleh para pemuda seabad lalu menanamkan benih ketahanan yang membawa Indonesia menuju kemerdekaan. Semangat yang sama harus membimbing kita hari ini saat kita bekerja menuju Indonesia Emas 2045, sebuah bangsa yang adil, bermartabat, dan sejahtera pada tonggak 100 tahunnya. Ketahanan yang kita pupuk sekarang, dalam mendengarkan, dalam membangun, dan dalam bertekun bersama melintasi perbedaan, akan menentukan apakah masa depan emas itu menjadi kenyataan bersama.