Bahkan, enam dari sembilan Batas Planet (BP) yang menopang kelayakhunian Bumi, termasuk iklim, keanekaragaman hayati, air tawar, tanah, dan lautan, telah terlewati. Hal ini mengindikasikan bahwa kerusakan lingkungan telah melampaui batas aman dan menimbulkan risiko perubahan yang tidak dapat diubah (irreversible). Kenyataan pahit ini, yang dikonfirmasi oleh para ilmuwan melalui laporan Planet Health Check yang diterbitkan pada tahun 2025, berarti umat manusia kini hidup di luar ruang operasi yang aman untuk kehidupan seperti yang kita kenal. Ini adalah diagnosis yang sama parahnya dengan tubuh yang mengalami kegagalan organ: pemulihan menjadi lebih sulit dengan setiap batas yang terlewati.
Namun, bahkan di tengah kebenaran yang menyedihkan ini, masih ada ruang untuk harapan, bukan optimisme naif, melainkan harapan positif yang membumi yang memungkinkan ketahanan. Semangat inilah yang membentuk sesi bincang santai (fireside chat) di Katadata SAFE 2025, dengan tema “Green for Resilience” (Hijau untuk Ketahanan). Di sana, pembela lingkungan Farwiza Farhan, pendiri Yayasan HAkA dan penerima Ramon Magsaysay Award 2024 untuk Kepemimpinan Baru (Emergent Leadership) atas perannya dalam menjaga hutan dan memberdayakan masyarakat lokal, serta Gita Syahrani, pendiri BLESS Indonesia Foundation, merenungkan makna hidup, bertindak, dan mempertahankan keberanian di masa krisis planet. Acara yang diadakan di Jakarta pada 11 September 2025 ini menyoroti kekuatan aksi kolektif di antara para pemimpin, komunitas, dan individu.
Mendengarkan Laporan Kesehatan Bumi
Sesi bincang yang bertajuk Earth’s Health Check: What We’ve Ignored, and Why It Matters (Laporan Kesehatan Bumi: Apa yang Kita Abaikan, dan Mengapa Itu Penting) ini membahas fakta-fakta yang tidak nyaman: iklim ekstrem yang semakin tajam, keanekaragaman hayati yang runtuh, dan polusi yang merembes ke kehidupan sehari-hari. Ini bukanlah perkiraan yang jauh, melainkan kenyataan yang dialami, seperti banjir, kebakaran, dan gagal panen yang sudah menjadi ciri masa kini.
Namun, kedua pembicara memperingatkan agar tidak terjebak dalam keputusasaan. Farwiza mengingatkan audiens, “Jangan mengagungkan kabar buruk. Ada banyak pelaku yang melakukan hal-hal baik dalam skala kecil.” Kemenangan-kemenangan kecil, sebidang hutan yang dipertahankan, sungai yang dipulihkan, komunitas yang menemukan kekuatan baru, bukanlah pengalihan. Mereka adalah benih-benih ketahanan, bukti bahwa aksi kolektif masih mungkin dilakukan.
Tentang Memikul Beban
Ketahanan, seperti yang disampaikan Farwiza, tidak berarti memikul seluruh krisis sendirian. “Ambillah jeda. Ini tidak sepenuhnya menjadi beban Anda. Kita melakukan ini bersama-sama. Lakukan apa yang bisa Anda lakukan hari ini. Itu mungkin berarti bertanya kabar. Bernapas.” “Ambillah jeda. Ini tidak sepenuhnya menjadi beban Anda. Kita melakukan ini bersama-sama. Lakukan apa yang bisa Anda lakukan hari ini. Itu mungkin berarti bertanya kabar. Bernapas.”
Kejujurannya menggarisbawahi kebenaran yang sering diabaikan: aktivis dan pemimpin bukanlah mesin. Kekuatan mereka bergantung pada keseimbangan istirahat, mengingat bahwa perubahan adalah kolektif, dan pada kasih sayang. Kasih sayang untuk orang lain, tentu saja, tetapi juga untuk diri sendiri. Ia mengakui bahwa keterputusan dari alam dengan cepat memicu frustrasi, sebuah pengingat bahwa tetap berakar pada dunia alami sangat penting untuk mempertahankan harapan.
Mosaik Ketahanan
Saat sesi ditutup, Gita mengundang peserta untuk menyebutkan satu kata yang membantu mereka tetap tangguh di tengah kekacauan. Respon-respon yang terkumpul membentuk mosaik: kata-kata yang penuh keyakinan seperti “Bismillah” dan “Astagfirullah.” Praktik membumi seperti “Napas” dan “jeda.” Ungkapan yang penuh humor seperti “Aku belum kaya” dan “Hicikiwirrr” memicu tawa. Dan afirmasi kekuatan: “Semangat,” “Tegar,” “Adaptasi.”
Bersama-sama, kata-kata ini melukiskan ketahanan sebagai sesuatu yang sangat pribadi dan juga sangat terbagi. Itu bisa berupa keyakinan, humor, napas, atau tekad semata, tetapi ketahanan tumbuh ketika orang menemukan jangkar mereka sendiri dan menyadari bahwa mereka tidak sendirian dalam perjuangan ini.
Di masa krisis, mungkin pertanyaan yang sebenarnya adalah ini: tindakan kecil berupa harapan apa yang akan Anda pilih hari ini, dan bagaimana hal itu dapat menyebar keluar ke dunia di sekitar Anda? Dan jika ketahanan dibangun satu pilihan pada satu waktu, lalu pilihan apa, baik besar maupun kecil, yang bersedia kita buat bersama untuk menjaga planet kita, dan kemanusiaan kita, tetap hidup?