BLESS Indonesia

Kontak
BLESS Indonesia Office
Jl. Cipete IV No.8A, RT.2/RW.3, Cipete Sel., Kec. Cilandak, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta, 12410

Apa yang bisa kita pelajari dari “Sumpah Pemuda” mengenai kepemimpinan

by Bless Indonesia

Pada tahun 1928, sebuah pertemuan sederhana di Batavia membawa semangat yang baru. Anak-anak muda dari berbagai pulau berkumpul dengan satu niat, yaitu membayangkan masa depan bersama. Ruangan itu tidak dihiasi simbol kekuasaan, melainkan diisi dengan ketulusan, keberanian, dan harapan. Hampir seabad kemudian, semangat itu terus memandu langkah kita.

Sumpah Pemuda bukan sekadar pernyataan; ini adalah kebangkitan kepemimpinan kolektif. Ia mengingatkan kita bahwa kekuatan suatu bangsa dan gerakan apa pun tumbuh dari ruang tempat bertemunya kepercayaan dan kejelasan. Dari ruang yang penuh suara itu, kita mewarisi sebuah pelajaran yang masih hidup hingga kini: masa depan terbuka bagi mereka yang memimpin dengan persatuan dan tujuan yang jelas.

Kini, saat kita memperingati Sumpah Pemuda yang ke-97 tahun 2025 ini dengan tema “Pemuda Pemudi Bergerak, Indonesia Bersatu,” kita dipanggil sekali lagi untuk bergerak bersama secara kolektif. Mari kita renungkan pertanyaan ini bersama-sama: Bagaimana kepemimpinan hari ini dapat tetap berakar pada kepercayaan dan keberanian bersama, sehingga kita dapat terus maju sebagai satu Indonesia, bersatu dalam tujuan?


Pergeseran Menuju Kepemimpinan Bersama (Shared Leadership)

Kepemimpinan kolektif berbeda dengan gagasan kepemimpinan tradisional yang berpusat pada individu. Sementara kepemimpinan konvensional berfokus pada orang yang berada di puncak, kepemimpinan kolektif menyoroti kekuatan orang-orang yang bekerja sama menuju tujuan bersama.

Tantangan global saat ini, mulai dari perubahan iklim hingga ketidaksetaraan sosial dan keberlanjutan, begitu saling terkait sehingga tidak ada satu orang atau institusi pun yang dapat mengatasinya sendiri. Di sinilah semangat gotong royong menjadi lebih relevan dari sebelumnya.

Sumpah Pemuda sendiri lahir dari semangat kolaborasi ini. Ia dibentuk oleh 13 pemuda yang mewakili beragam organisasi dan latar belakang, yang kemudian bersatu untuk mendeklarasikan satu kebangsaan, satu tanah air, dan satu bahasa: Indonesia. Dengan melakukan itu, mereka mengubah keragaman menjadi kekuatan. Persatuan mereka dalam tujuan menjadi model bagaimana aksi kolektif dapat mengatasi fragmentasi dan kompleksitas, sebuah pelajaran yang tetap penting untuk mengatasi isu-isu multiaspek saat ini.


Kepemimpinan Kolektif: Semangat Sumpah Pemuda Terus Hidup

Dalam kata-kata Soegondo Djojopoespito, yang memimpin Kongres Pemuda 1928 yang menyatukan pemuda Indonesia di bawah Sumpah Pemuda, “Kita harus bersatu untuk mencapai cita-cita yang luhur, tetapi janganlah persatuan itu menghapuskan perbedaan kita.” Pesan beliau mengingatkan kita bahwa persatuan dan keragaman bukanlah hal yang bertentangan, melainkan pendamping dalam kemajuan. Prinsip ini terus memandu ekosistem BLESS melalui misi FLARE, di mana kolaborasi berkembang berdasarkan inklusi dan tujuan bersama.

Misi FLARE membantu membentuk bioekonomi yang bertanggung jawab, baik sebagai pendekatan ekonomi maupun solusi iklim. Misi ini tumbuh melalui kolaborasi antarindividu dari berbagai bidang, seperti pemimpin, petani, inovator, pemilik bisnis, LSM, dan pembuat kebijakan, yang masing-masing membawa kekuatan mereka sendiri menuju tujuan bersama. Dalam banyak hal, ini mencerminkan semangat kebangsaan yang kita peringati pada Sumpah Pemuda kali ini: bahwa kemajuan sejati berkembang ketika kita saling percaya dan bergerak secara kolektif. Dalam misi ini, persatuan hidup dalam harmoni, di mana setiap suara berkontribusi pada ritme tujuan yang lebih besar, berlandaskan kerangka kecerdasan emosional dan ketahanan Goleman yang memelihara empati, kesadaran, dan keberanian untuk berkolaborasi.

Perubahan yang langgeng dimulai dengan keberanian untuk mendengarkan. Mendengarkan mengundang pemahaman dan membangun kepercayaan yang merekatkan kolaborasi. Ini meminta kita untuk menghentikan asumsi, merangkul perbedaan, dan menemukan kejelasan melalui empati. Melalui praktik ini, para pemimpin mulai melihat melampaui peran dan jabatan, menemukan titik temu di mana tujuan dapat tumbuh.

Kepemimpinan kolektif berkembang ketika tanggung jawab dibagi bersama. Sumpah Pemuda adalah momen ketika anak-anak muda berdiri bahu-membahu, didorong oleh sebuah visi yang terasa lebih besar dari diri mereka sendiri. Setiap suara membawa janji yang sama: Satu Nusa, Satu Bangsa, Satu Bahasa. Komitmen bersama itu mengubah deklarasi sederhana menjadi gerakan yang hidup.

Memimpin bersama berarti memegang kepemilikan dan kepedulian. Ini berarti melihat setiap hasil sebagai sesuatu yang kita bangun bersama dan menghargai proses sedalam menghargai hasil. Hari ini, semangat ini terus hidup di dalam BLESS dan FLARE, di mana mitra, fasilitator, dan aktor lokal menciptakan dampak bersama melalui kolaborasi, bukan persaingan. Kepemimpinan menjadi tindakan menenun koneksi, di mana setiap orang adalah benang yang memperkuat kain tujuan. Ketika tanggung jawab dibagi, kesuksesan terasa seperti matahari terbit, tenang, kolektif, dan penuh janji.

Para delegasi muda tahun 1928 berjalan menuju ketidakpastian, dipandu oleh kepercayaan. Kepercayaan itu menjadi akar tak terlihat dari kebangkitan Indonesia. Dalam kepemimpinan kolektif, “kepercayaan adaptif” ini menjaga segalanya tetap berakar, sebuah keyakinan pada proses bahkan ketika hasilnya masih belum jelas. Ia tumbuh dengan tenang di bawah ketidakpastian, seperti akar yang menahan tanah.

Kepercayaan dalam pengertian ini adalah tindakan keterbukaan yang mengundang pembelajaran, koneksi, dan kesabaran melalui perubahan. Banyak gerakan modern untuk iklim, kesetaraan, dan kesejahteraan bergerak dalam ritme yang sama: lingkaran-lingkaran kecil yang melangkah maju bersama, dipandu oleh keyakinan bersama dalam kolaborasi. Kepercayaan menjadi jembatan yang kokoh, bahkan ketika tujuan masih terbentuk di cakrawala.Kepemimpinan yang Berakar untuk Masa Depan yang Regeneratif


Kepemimpinan yang Berakar untuk Masa Depan yang Regeneratif

Sumpah Pemuda menandai dimulainya perjalanan yang terus berkembang melalui setiap upaya untuk bersatu, mendengarkan, dan memimpin bersama. Hampir seabad kemudian, janjinya terus memandu kita dalam cara kita bekerja, berkolaborasi, dan peduli satu sama lain setiap hari.

Sumpah Pemuda modern kita terbentuk dalam isyarat yang mungkin terlihat kecil tetapi membawa kekuatan yang tenang: keberanian untuk hadir dengan kejujuran, untuk berbagi tanggung jawab, dan untuk berjalan berdampingan melalui ketidakpastian. Kepemimpinan, dalam terang ini, tumbuh bukan dari otoritas, tetapi dari kebersamaan dan kepercayaan.

Para pemuda tahun 1928 pernah berdiri di sebuah aula kecil, membayangkan sebuah bangsa yang belum lahir. Hari ini, kita berdiri di atas impian mereka, bukan untuk mengulangi kata-kata mereka, tetapi untuk menghidupinya.

Saat bendera Indonesia berkibar sekali lagi, marilah kita ingat bahwa persatuan hidup melalui gerakan. Dan semoga kita masing-masing, dengan cara kita sendiri, menjaga gerakan itu tetap hidup dalam cara kita memimpin, cara kita mendengarkan, dan cara kita bergerak maju, satu Indonesia, bersatu dalam tujuan sebagai generasi muda.